English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Rabu, 10 Agustus 2011

Di Taman Ini



Share/Save/Bookmark

Jumat, 05 November 2010

Catatan



Setiap tahun catatan bencana terbit dalam catatan buku Indonesia. Jika beberapa di antaranya tetap langgeng tercetak di dalam buku sejarah Indonesia, pastilah bencana tersebut sangat dahsyat atau terdapat kontroversi yang dahsyat di baliknya. Sebab pasti ada pertanggung jawaban di balik peristiwa itu.
Kita bisa menduga bahwa bencana-bencana ini erat hubungannya dengan hukuman dari Tuhan atas perilaku pemimpin kita yang berperilaku kerap tak adil dan lebih sering mengabdikan dirinya pada jabatan ketimbang mengabdikan diri pada rakyat melalui jabatan. Bolehlah sebagian dari kita mencurigai pandangan ini. Namun, hubungan ini sungguh tak menyenangkan bagi rakyat yang menjadi korban bahwa seharusnya hukuman ini ditimpakan langsung kepada mereka (para pemimpin). Lalu apakah Tuhan ceroboh dalam menghukum? Saya ragu. Saya ragu bila para rakyat yang menjadi korban tsunami Mentawai atau banjir bandang Wasior –termasuk anak-anak- mengenal dosa-dosa politik. Sebaiknya kita tidak membicarakan hubungan antara Tuhan dengan manusia.
Ya, kita harus membicarakan manusia dengan manusia. Tsunami di Mentawai disebabkan oleh tumbukan lempeng yang apa boleh buat. Namun jika yang terjadi kemudian menjadi fatal disebabkan karena tangan jahil yang merusak antena satelit sehingga BMG terlambat mengantisipasi adalah urusan lain, berapa banyak korban yang akan bisa diselamatkan jika antena satelit itu berfungsi.
Hal tersebut pun sudah terjadi, apa boleh buat. Tapi, adalah berlebihan jika informasi malapetaka tersebut bisa terlambat diterima pemerintah hingga 12 jam. Gempa di Tabriz, Iran tahun 1780 baru bisa diketahui Teheran dalam beberapa hari. Di zaman itu Guiglielmo Marconi bahkan belum lahir apalagi terpikir untuk membuat radio transmisi dan kode morse. Di masa kini informasi telah membuat apapun tak lagi berjarak, apa yang terjadi di pegunungan Alborz bisa sampai di Washington tanpa tertunda.
Jika kita mengaitkannya dengan definisi relativitas Einstein, bisa jadi “jarak” itu menjadi relatif atau dan bahkan subjektif bagi si penerima kabar. Pemerintah yang menerima kabar, hati dan pemikirannya berjarak dengan penderitaan rakyatnya. Kemudian ketika disinggung mengenai keterlambatan itu yang keluar dari mulutnya hanyalah ucapan yang semata-mata “keterangan” yang muram bahkan fatal seperti yang diucapkan oleh ketua MPR Marzuki Alie.
"Mentawai itu jauh, itu pulau, konsekwensi tinggal di pulau. Kalau takut ombak jangan tinggal di pantai. Kalau ada peringatan dua jam sebelum tsunami, apa sempat keluar dari Mentawai? Kalau tahu itu, pindah tempat saja,"
Pun seandainya manusia terlahir untuk bisa memilih, bapak pimpinan dewan yang terhormat Marzuki Alie, pasti mereka akan memilih untuk bisa tinggal di rumah dengan fasilitas mewah, tidur tanpa perasaan terguncang, dan bisa jalan-jalan keluar negeri setiap saat.
 
-Dannie Faizal 2010–


Share/Save/Bookmark